Senin, 22 Juni 2020

Mengikhlaskan Niat Dalam Menuntut Ilmu

Menuntut ilmu ialah amalan yang sangat mulia selama bisa meluruskan niat karena Allah ta’ala. Jika niat yang ikhlas ini hilang dalam hati para penuntut ilmu, maka hilang pula keindahan dan ketinggiannya.

Sebelum membahas lebih jauh mengenai niat yang ikhlas dalam menuntut ilmu, sudah selayaknya kita memahami dahulu pengertian dan makna niat, baik secara etimologi maupun secara terminologi.

Niat secara etimologi berasal dari Bahasa arab “niat “ yang artinya ‘al qashdu’ yaitu maksud, tujuan, tekad, dan ketetapan hati. Sedangkan secara istilah di jelaskan oleh ulama malikiah adalah ‘keinginan seseorang dalam hatinya untuk melakukan sesuatu’.

Makna ikhlas secara bahasa adalah sesuatu yang bersih, murni dari sesuatu yang mengotorinya. Adapun secara istilah dijelaskan oleh syaikh Salim bin Ied Al Hilali rahimahullah, ‘mengharapkan dari Allah semata tanpa selain-Nya'. Memahami urgensi niat sangat di tekankan dalam agama, khususnya dalam menuntut ilmu, karena dengan memahaminya akan bisa memperbaiki kemurnian niat didalam hati.

Al Hafidz Ibnu rojab Al-Hambali rahimahullah menyebutkan dalam kitab beliau Jami’ al ulum wal hikam mengenai fungsi niat, bahwa ada dua fungsi niat :
Pertama, Membedakan antara satu ibadah dengan ibadah lainnya,atau membedakan antara ibadah dengan kebiasaan.
Kedua, Membedakan tujuan seseorang dalam beribadah. Jadi, apakah seseorang beribadah karena mengharap wajah Allah ataukah ia beribadah karena selain Allah, seperti mengharapkan pujian manusia. Membedakan antara satu ibadah dengan ibadah lain. Contohnya, shalat sunnah qobliyah subuh dengan sholat subuh. kedua sholat ini sama sama dilakukan dengan dua rokaat,maka yang menjadi pembedanya adalah niat.

Allah ta’ala berfirman:

 وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.(QS. Al bayyinah:5)
Dalam ayat ini, jelas sekali bahwa Allah ta’ala memerintahkan kita untuk mengikhlaskan niat kepada-Nya semata dalam semua ibadah, terlebih lagi dalam ibadah yang sangat agung yaitu ibadah menuntut ilmu.

Rasululllah salallahu alaihi wasallam juga bersabda dalam hadits yang sangat terkenal dari sahabat Umar bin Khatab rodhiyallahu ‘anhu,

عَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits).

Membangun niat yang ikhlas didalam hati ketika menuntut ilmu, akan mengantarkan kita kepada rasa manis yang akan di peroleh dari manfaat ilmu tersebut, baik di dunia maupun di akhirat. Adapun jika keliru membangun niat ketika menuntut ilmu, akan merasakan akibat yang pahit, baik di dunia ataupun di akhirat.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Siapa menuntut ilmu yang seharusnya ditujukan hanya mengharap wajah Allâh ‘Azza Wa Jalla, namun ternyata ia tidak menuntut ilmu kecuali untuk mendapatkan sedikit dari kenikmatan dunia, maka ia tidak akan mencium bau Surga pada hari Kiamat.(HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban, Shahîh ath-Targhib, no. 105)

Para ulama juga telah mewanti wanti agar tidak salah niat dalam menuntut ilmu. Baik untuk mencari keuntungan materi ataupun memperoleh kedudukan dimata manusia. Israil bin Yunus rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang belajar ilmu syar’i karena Allah, maka ia akan mulia dan bahagia didunia dan diakhirat. Barangsiapa yang mempelajarinya karena selain Allah, maka akan merugi dunia akhirat."

Abu Yusuf berkata, "wahai kaum! Berharaplah dengan ilmumu keridhaan Allah. Sesungguhnya saya tidak pernah duduk di sebuah majlis dengan niat agar di puji, kecuali ketika berdiri saya mendapat celaan ". Karenanya sudah menjadi kewajiban diri kita untuk segera introspeksi terhadap niat yang ada di dalam hati masing masing. Karena keikhlasan adalah perkara besar yang harus kita latih dan kita perbaiki jika mulai berubah ke arah yang salah.

Sufyan Ats Tsauri berkata, "aku tidak pernah mengobati sesuatu yang lebih sulit bagiku dari mengobati niatku". Jika para ulama yang sudah terkenal dengan keshalihan ilmu dan amal masih merasa berat dengan perkara niat, bagaimana pula dengan kita yang masih sangat jauh dalam keutamaan tersebut?.

Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/22495-mengenal-fungsi-niat.html

https://radiotarbiyahsunnah.com/radiorodjabdg/wp-content/uploads/2016/12/Kendala-Penuntut-Ilmu-01-Menuntut-Ilmu-Tidak-Karena-Allah.jpg

Abul Qa’qa’ Muhammad bin Shalih Alu Abdillah 2015,102 Kiat Agar Semangat Belajar Agama Membara.Jawa Timur: Pustaka eLBa


Tidak ada komentar:

Posting Komentar