Menuntut
ilmu ialah amalan yang sangat mulia selama bisa meluruskan niat karena Allah
ta’ala. Jika niat yang ikhlas ini hilang dalam hati para penuntut ilmu, maka
hilang pula keindahan dan ketinggiannya.
Sebelum
membahas lebih jauh mengenai niat yang ikhlas dalam menuntut ilmu, sudah
selayaknya kita memahami dahulu pengertian dan makna niat, baik secara
etimologi maupun secara terminologi.
Niat
secara etimologi berasal dari Bahasa arab “niat “ yang artinya ‘al qashdu’
yaitu maksud, tujuan, tekad, dan ketetapan hati. Sedangkan secara istilah di
jelaskan oleh ulama malikiah adalah ‘keinginan seseorang dalam hatinya untuk
melakukan sesuatu’.
Makna
ikhlas secara bahasa adalah sesuatu yang bersih, murni dari sesuatu yang mengotorinya. Adapun secara istilah dijelaskan oleh syaikh Salim bin Ied Al Hilali rahimahullah,
‘mengharapkan dari Allah semata tanpa selain-Nya'. Memahami urgensi niat sangat di tekankan dalam agama, khususnya dalam menuntut ilmu, karena dengan memahaminya
akan bisa memperbaiki kemurnian niat didalam hati.
Al
Hafidz Ibnu rojab Al-Hambali rahimahullah menyebutkan dalam kitab beliau
Jami’ al ulum wal hikam mengenai fungsi niat, bahwa ada dua fungsi niat :
Pertama, Membedakan
antara satu ibadah dengan ibadah lainnya,atau membedakan antara ibadah dengan
kebiasaan.
Kedua, Membedakan
tujuan seseorang dalam beribadah. Jadi, apakah seseorang beribadah karena
mengharap wajah Allah ataukah ia beribadah karena selain Allah, seperti
mengharapkan pujian manusia. Membedakan
antara satu ibadah dengan ibadah lain. Contohnya, shalat sunnah qobliyah subuh
dengan sholat subuh. kedua sholat ini sama sama dilakukan dengan dua
rokaat,maka yang menjadi pembedanya adalah niat.
Allah
ta’ala berfirman:
وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ
ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ
وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ
Padahal
mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan
kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan
shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.(QS. Al bayyinah:5)
Dalam
ayat ini, jelas sekali bahwa Allah ta’ala memerintahkan kita untuk mengikhlaskan
niat kepada-Nya semata dalam semua ibadah, terlebih lagi dalam ibadah yang
sangat agung yaitu ibadah menuntut ilmu.
Rasululllah
salallahu alaihi wasallam juga bersabda dalam hadits yang sangat
terkenal dari sahabat Umar bin Khatab rodhiyallahu ‘anhu,
عَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ
كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ
وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ
يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
Dari
Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya
mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan
Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang
hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka
hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam
Ahli Hadits).
Membangun
niat yang ikhlas didalam hati ketika menuntut ilmu, akan mengantarkan kita
kepada rasa manis yang akan di peroleh dari manfaat ilmu tersebut, baik di
dunia maupun di akhirat. Adapun
jika keliru membangun niat ketika menuntut ilmu, akan merasakan akibat yang pahit, baik di dunia ataupun di akhirat.
Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ
وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ
يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Siapa
menuntut ilmu yang seharusnya ditujukan hanya mengharap wajah Allâh ‘Azza Wa
Jalla, namun ternyata ia tidak menuntut ilmu kecuali untuk mendapatkan sedikit
dari kenikmatan dunia, maka ia tidak akan mencium bau Surga pada hari
Kiamat.(HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ibnu
Hibban, Shahîh ath-Targhib, no. 105)
Para
ulama juga telah mewanti wanti agar tidak salah niat dalam menuntut ilmu.
Baik untuk mencari keuntungan materi ataupun memperoleh kedudukan dimata
manusia. Israil
bin Yunus rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang belajar ilmu syar’i
karena Allah, maka ia akan mulia dan bahagia didunia dan diakhirat. Barangsiapa yang mempelajarinya karena selain Allah, maka akan merugi
dunia akhirat."
Abu
Yusuf berkata, "wahai kaum! Berharaplah dengan ilmumu keridhaan Allah.
Sesungguhnya saya tidak pernah duduk di sebuah majlis dengan niat agar di
puji, kecuali ketika berdiri saya mendapat celaan ". Karenanya
sudah menjadi kewajiban diri kita untuk segera introspeksi terhadap niat yang ada di
dalam hati masing masing. Karena keikhlasan adalah perkara besar yang harus kita
latih dan kita perbaiki jika mulai berubah ke arah yang salah.
Sufyan
Ats Tsauri berkata, "aku tidak pernah mengobati sesuatu yang lebih sulit bagiku
dari mengobati niatku". Jika
para ulama yang sudah terkenal dengan keshalihan ilmu dan amal masih merasa
berat dengan perkara niat, bagaimana pula dengan kita yang masih sangat jauh
dalam keutamaan tersebut?.
Simak
selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/42469-agar-aku-sukses-menuntut-ilmu-2-ikhlaskan-niatmu.html
Simak
selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/21418-penjelasan-hadits-innamal-amalu-binniyat-1.html
Simak
selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/22495-mengenal-fungsi-niat.html
https://radiotarbiyahsunnah.com/radiorodjabdg/wp-content/uploads/2016/12/Kendala-Penuntut-Ilmu-01-Menuntut-Ilmu-Tidak-Karena-Allah.jpg
https://radiotarbiyahsunnah.com/radiorodjabdg/wp-content/uploads/2016/12/Kendala-Penuntut-Ilmu-01-Menuntut-Ilmu-Tidak-Karena-Allah.jpg
Abul
Qa’qa’ Muhammad bin Shalih Alu Abdillah 2015,102 Kiat Agar Semangat Belajar
Agama Membara.Jawa Timur: Pustaka eLBa

Tidak ada komentar:
Posting Komentar