Rabu, 24 Juni 2020

Bagaimana Proses Menuntut Ilmu Yang Benar?



Beberapa tahun belakangan ini, Alhamdulillah masjid masjid terlihat lebih ramai dipadati oleh jamaah. Mereka hadir bukan hanya untuk sholat lima waktu, tapi untuk menghadiri majelis-majelis ilmu yang di adakan oleh DKM. Fenomena ini tersebar di banyak daerah jabodetabek dan beberapa daerah lain. Jamaah yang manghadiri majelis ilmu memiliki rentang usia dan latar belakang yang berbeda beda.Ada dari teman teman mahasiswa, para pekerja kantor, juga dari kalangan bapak-bapak dan ibu-ibu yang sudah pensiun.

Melihat dari latar belakang yang berbeda, terkadang kita sebagai orang awam dalam dunia ilmu agama, masih bingung menentukan majelis mana saja yang sebaiknya kita datangi. Mengingat hampir di setiap masjid memiliki jadwal kajian dengan pemateri yang mumpuni di bidangnya. Majelis majelis ilmu yang membahas tema tematik biasanya lebih ramai jika dibandingkan dengan majelis ilmu yang membahas kitab kitab para ulama klasik. Karena, waktu majelis ilmu tematik yang biasanya di adakan pada weekend dengan tema tema yang ringan.

Setelah memperhatikan fenomena yang ada, sebagai muslim dan muslimah tentu kita ingin mendapatkan manfaat ilmu secara tepat untuk memperbaiki kualitas pribadi masing-masing, karena itu jangan salah melangkah dalam proses belajar ilmu agama. Allah ta’ala telah menetapkan proses tersebut, untuk medapatkan manfaat yang maksimal ketika menghadiri majelis-majelis ilmu. Allah ta’ala berfirman dalam surat ali imron ayat 79
وَلَٰكِن كُونُوا۟ رَبَّٰنِيِّۦنَ بِمَا كُنتُمْ تُعَلِّمُونَ ٱلْكِتَٰبَ وَبِمَا كُنتُمْ تَدْرُسُونَ
Artinya:Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu menafsirkan makna rabbani pada ayat ini ‘mereka adalah orang-orang yang mengajarkan dan belajar ilmu secara bertahap, mulai dari perkara-perkara yang basic dilanjutkan dengan perkara yang di atasnya dan begitu seterusnya.’Perkara basic yang di maksud adalah perkara iman dan tauhid yang menjadi inti di utusnya nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Berdasarkan tafsir Ibnu Abbas ini, tampak jelas kepada kita perkara apa saja yang harus kita prioritaskan dan kita jadikan acuan ketika kita hendak menghadiri majelis ilmu.

Rasulullah salallahu alaihi wasallam bersabda kepada sahabatnya yang beliau utus untuk mengajarkan ilm.
إنك تأتي قوماً من أهل الكتاب فليكن أول ما تدعوهم إليه شهادة أن لا إله إلا الله ـ وفي رواية: إلى أن يوحدوا الله ـ فإن هم أطاعوك لذلك، فأعلمهم أن الله افترض عليهم خمس صلوات في كل يوم وليلة، فإن هم أطاعوك لذلك: فأعلمهم أن الله افترض عليهم صدقة تؤخذ من أغنيائهم فترد على فقرائهم، فإن هم أطاعوك لذلك فإياك وكرائم أموالهم، واتق دعوة المظلوم، فإنه ليس بينها وبين الله حجاب
“Sesungguhnya kamu akan mendatangi suatu kaum dari Ahli Kitab, maka ajaklah mereka kepada persaksian bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah –dalam riwayat lain: kepada tauhidullah-. Jika mereka mentaatimu untuk hal tersebut, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu pada setiap siang dan malam. Jika mereka mentaatimu untuk hal tersebut maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka sedekah yang diambil dari orang kaya mereka lalu dibagikan kepada orang-orang fakir di antara mereka. Jika mereka mentaatimu untuk hal tersebut maka kamu jauhilah harta mulia mereka. Takutlah kamu terhadap doa orang yang terzhalimi, karena tidak ada penghalang antara dia dan Allah” (H.R Bukhari 1395 dan Muslim 19)
Dalam hadits ini terdapat tahapan dalam berdakwah dan mempelajari ilmu, yakni dari yang paling penting kemudian di lanjutkan perkara penting yang di bawahnya.

Kaidah yang sering di sebutkan oleh para ulama
( من لم يطقن ألأصول, حرم الوصول )
“Barangsiapa yang tidak menguasai materi-materi ushul (pokok/dasar), dia tidak akan memperoleh hasil”

Para ulama juga sering mengingatkan :
(من رام العلم جملة, ذهب عنه جملة )
“Barangsiapa yang mempelajari ilmu langsung sekaligus dalam jumlah yang banyak, akan banyak pula ilmu yang hilang” [Dinukil dari Hilyatu tholibil ‘ilmi, Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid hafidzahullah]

Imam Asy Sya’bi rahimahullah mengatakan “barangsiapa yang mengambil ilmu sekaligus dalam waktu yang singkat, maka akan hilang dalam waktu yang singkat pula.” Beliau juga mengatakan “ilmu hanya bisa di pelajari dengan berjalannya malam dan siang.”

Setelah kita memahami proses yang benar dalam menuntut ilmu, sudah selayaknya kita mencoba mengamalkan dalam keseharian kita. Dengan cara kita mencari majelis majelis ilmu yang membahas tema iman dan tauhid dengan referensi kitab kitab para ulama klasik. Bertekad mewajibkan diri untuk selalu hadir dalam majelis tersebut bagaimanapun kondisinya. Karena kitab kitab para ulama klasik memiliki karakter luas dalam penjelasan, meskipun kitab yang mereka tulis sangat singkat namun butuh waktu yang panjang untuk menyelesaikannnya.

Wa shalallahu ‘alla nabiyyina muhammad

https://m.facebook.com/muhammadnuzuldzikri/photos/a.141277199853499/147056169275602/?type=3&source=57&__tn__=EH-R

7 komentar:

  1. MasyaaAllah, semoga Allah berikan keistiqamahan dalam menuntut ilmu syari...

    BalasHapus
  2. Hai kak Tika, ini tulisan 'rewrite' kah atau original dari pemikiran kk sendiri?
    Secara isi, tulisannya menarik, membuat yg membaca ingin tahu lebih banyak yg sebenarnya.
    Kalau tulisan keseluruhan cukup mudah utk dimengerti.
    Saran dr sy, tulisan religius memang harus lebih berhati-hati ketika menerangkan ttg dalil. Mungkin lebih aman ketika kita menghubungkannya (dalil yg kita maksud) dgn pengalaman pribadi saja.
    Tetap semangat menebar kebenaran ya, kak Tika!

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih banyak sarannya, jazaakillah khoiron.
      idenya dari pengalaman sendiri kak. banyak yang kurang tepat kah?
      boleh di sampaikan kurang tepatnya. lagi belajatr menulis artikel pendek. mohon bimbingannya.

      Hapus
  3. untuk memahami ilmu agama yang lainnya, perlu di pahami dulu fondasi dasar utamanya ya kak, ketauhidan dan keimanan, biar ga salah arah nantinya :)

    BalasHapus
  4. Typonya ada, tapi ga bikin bingung. Berkarya terus ya. 👍

    BalasHapus